Loftus Cheek Cidera Saat Lawan New England, Pertandingan Persahabatan Yang Tak Bersahabat Bagi Chelsea
howexplore - Loftus Cheek Cidera Saat Lawan New England, Pertandingan Persahabatan Yang Tak Bersahabat Bagi Chelsea | sumberbola.co
howexplore - Loftus Cheek Cidera Saat Lawan New England, Pertandingan Persahabatan Yang Tak Bersahabat Bagi Chelsea | sumberbola.co

HOWEXPLORE – Sebuah laga persahabatan dalam dunia sepakbola ternyata tidak selalu bersahabat. Salah satu contohnya adalah laga persahabatan antara tim papan tengah Liga Inggris, Chelsea melawan New England Revolution. Pada laga tersebut Chelsea harus menangis seperti hal nya Chelsea Olivia di sinetron sinetron kejar tayang. Pasalnya, salah satu pemain The Blues, Ruben Loftus Cheek mengalami cidera.

Fakta tersebut tentu saja tak mengenakkan bagi The Blues karena Ruben Loftus cheek adalah pemain penting untuk tim papan tengah Inggris itu. Apalagi Chelsea masih harus melakoni pertandingan final Liga Eropa melawan sesama tim papan tengah Liga Inggris, Arsenal pada akhir Mei nanti.

Cidera yang dialami Ruben Loftus Cheek membuat Chelsea menyesal telah menjalani pertandingan persahabatan. The Blues pun sempat melakukan evaluasi diri setelah laga persahabatan tersebut. Bagi The Blues, apalah artinya sebuah persahabatan apabila hanya meninggalkan luka. Ruben Loftus Cheek enggan untuk diwawancarai setelah kejadian itu. Ia hanya pasrah dengan nasib yang dialaminya.

Ruben Loftus Cheek kecewa karena cidera yang dialaminya membuatnya absen untuk tampil di final Liga Eropa dan absen di reuni bukber. Selain itu ia juga tak bisa melakukan Cheek bebas, karena dilarang agama. Untuk mengisi waktu luangnya, Ruben Loftus Cheek berencana menjadi host atau presenter di acara dahsyat seperti saudara sepupunya, Ruben Onsu. Ruben Onsu sendiri merupakan seorang presenter ternama di Guatemala.

Di sisi lain, Ruben Loftus Cheek bersyukur hanya kakinya yang cidera, bukan hatinya. Chelsea pun ketar ketir dengan absennya Ruben Loftus Cheek di partai final Liga Eropa menghadapi Arsenal. Lha waktu menghadapi Leicester City saja The Blues cuma bisa imbang, apalagi melawan Arsenal. Bisa bisa mereka dibantai oleh The Gunners.

Pertandingan persahabatan antara Chelsea melawan New England Revolution digelar di Stadion Gilette, kota Boston, Amerika Serikat hari kamis 16 Mei 2019 ba’da isya. Lawan dari Chelsea, yaitu New England Revolution adalah tim dari negaranya Donald Trump, meskipun terdapat kata “England” di tengah nama klubnya.

New England Revolution kalau di bahasa Indonesia kan artinya kurang lebih Revolusi Baru Inggris. Chelsea memilih New England Revolution atau Revolusi Baru Inggris sebagai lawan adalah untuk mengingatkan bahwa The Blues harus menjadi tim Inggris yang perlu di revolusi. Hal itu karena selama dua musim terakhir ini tim asal London Barat itu selalu tertatih tatih di Premier League.

Mereka selalu menjadi ladang pembantaian bagi tim tim besar Inggris seperti Manchester United, Manchester City, Liverpool, maupun Tottenham Hotspur. Padahal dulu konon Chelsea pernah berjaya di Liga Inggris. Selain itu Chelsea memilih New England Revolution sebagai lawan adalah agar sekalian piknik ke Amerika Serikat. Piknik ke Amerika Serikat dilakukan sebagai refreshing bagi para pemainnya.

Piknik memang harus dilakukan oleh The Blues, mengingat sepanjang musim mereka sering kalah sehingga para pemain depresi. Yang menarik adalah gelandang muslim Chelsea, N’golo Kante tetap dapat masuk ke Amerika Serikat meskipun Donald Trump beberapa waktu lalu mengatakan akan melarang orang Muslim masuk ke negaranya. Nah, harusnya gitu dong Trump, semua orang bisa masuk Amerika Serikat apapun ras dan agamanya. Jangan rasis gitu.

Kan asyik kalau semua ras dan agama bisa masuk Amrik yang katanya negara beradab. Apalagi kalau ngomongin sepakbola, sepakbola itu universal, dapat dimainkan oleh ras manapun dan agaman apapun.

Ruben Loftus Cheek baru dimainkan di babak kedua. Saat itu Chelsea sudah unggul 3 gol tanpa balas dari New England Revolution. Namun baru 15 menit berada di lapangan, Ruben Loftus Cheek terkapar. Kemudian ia pun harus meninggalkan stadion dengan menggunakan alat bantu. Cideranya Ruben Loftus Cheek membuat Maurizio Sarri memutar otak ketika nnati melawan Arsenal karena ketersediaan gelandang yang menipis.