Pasca Cidera Panjang, Akankah Chamberlain Bangkit Di Liverpool, Ataukah Meredup?
howexplore - Pasca Cidera Panjang, Akankah Chamberlain Bangkit Di Liverpool, Ataukah Meredup? | cdn.com
howexplore - Pasca Cidera Panjang, Akankah Chamberlain Bangkit Di Liverpool, Ataukah Meredup? | cdn.com

HOWEXPLORE – Apakah Anda masih ingat dengan pemain Liverpool yang bernama Alex Oxlade Chamberlain? Atau jangan jangan Anda bahkan tidak tahu ada pemain Liverpool yang bernama Alex Oxlade Chamberlain? Seandainya Anda lupa atau bahkan tidak tahu ada pemain Liverpool bernama Alex Oxlade Chamberlain, maka itu hal yang sangat wajar. Mengingat sepanjang musim lalu sang pemain mengalami cidera, sehingga nyaris tidak pernah diturunkan untuk memperkuat The Reds.

Alex Oxlade Chamberlain adalah pemain yang direkrut The Reds pada musim panas 2017, tepatnya tanggal 31 Agustus, hari terakhir sebelum jendela transfer musim panas akan ditutup. Chamberlain direkrut The Reds dari Arsenal. Setelah nyaris semusim membela Liverpool, Chamberlain harus bernasib sial karena mengalami cidera pada April 2018. Sang pemain harus menepi lebih dari satu musim.

Bagi seorang pemain sepakbola, cidera adalah hal yang mengerikan. Beruntung jika hanya mengalami cidera ringan sehingga langsung segera dapat merumput kembali. Tapi naas apabila cidera tersebut berlangsung cukup lama, bahkan lebih dari satu musim. Bisa-bisa ia tak lagi mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dan pensiun lebih dini. Kalau tak percaya coba tanyakan hal itu kepada Jonathan Woodgate.

Woodgate adalah pemain belakang yang bersinar di bawah naungan Leeds United. Kala berkostum Leeds United, Woodgate sangat sulit untuk diterobos para penyerang lawan. Leeds pun menjadi salah satu tim yang disegani di Premier League, bahkan Eropa pada medio awal 2000-an.

Saat itu Leeds mampu menjadi pengganggu tim tim mapan Premier League seperti Manchester United dan Arsenal. Sementara The Citizens kala itu masih tim antah berantah sebelum mendapat kucuran dana dari saudagar Arab. Sedangkan Liverpool masih angin-anginan. Di Liga Champion, Leeds United memberikan kejutan besar dengan melaju hingga babak semi final musim 2000/2001.

Berjaya bersama Leeds, Woodgate kemudian dilirik oleh tim terbaik di muka Bumi, tak lain dan tak bukan tim itu adalah Real Madrid. Real Madrid kala itu sedang membangun proyek Los Galacticos generasi kedua, yaitu mengumpulkan pemain pemain terbaik dunia ke Santiago Bernabeu. Woodgate pun bangga menjadi bagian dari proyek raksasa ini dan menjadi rekan satu tim pemain pemain tangguh di muka Bumi.

Namun sayang, yang terjadi kemudian justru hal yang mungkin tidak akan pernah mau diingat oleh Woodgate. Di Real Madrid, ia mengalami cidera yang cukup parah. Cidera itu memaksanya absen sepanjang musim. Tercatat selama 2 musim membela Madrid (2004-2006), Woodgate hanya tampil sebanyak 9 kali. Jumlah yang sangat sedikit untuk pemain yang digadang-gadang sebagai salah satu pemain bertahan terbaik dunia.

Beruntung Woodgate kemudian mampu bangkit setelah dipinjamkan ke Middlesbrough City. Cidera yang dialaminya, membuat karirnya di tim nasional Inggris tertutup untuk selama lamanya. Tak hanya Woodgate, pemain Inggris lain yang membela Real Madrid, Michael Owen juga mengalami nasib yang hampir sama.

Michael James Owen merupakan penyerang Inggris yang fenomenal. Umurnya baru 18 tahun saat ia menjebol gawang Argentina di Piala dunia 1998. Dua tahun sebelumnya, Owen memulai debut bersama Liverpool di Premier League. Debut tersebut menandai lahirnya seorang wonderkid di tanah Eropa.

Owen kemudian bersinar bersama Liverpool dan tim nasional Inggris. Musim panas 2004, secara mengejutkan sang bintang Inggris itu direkrut oleh Real Madrid yang kala itu ingin meregenerasi Los Galacticos. Harusnya keputusannya pindah ke El Real menjadi moment terbaik dalam hidupnya, namun takdir berkata lain. Awalnya semua berjalan dengan baik di musim 2004/2005. Owen tetap menjadi penyerang berbahaya seperti yang terjadi tatkala ia masih berkostum Liverpool.

Namun kemudian semuanya berubah ketika ia mengalami cidera. Cidera yang kemudian menghantui Owen di sisa karirnya. Owen harus absen beberapa minggu, tapi ketika ia kembali ke lapangan, ia tak lagi menjadi Owen yang sebelumnya. Penampilannya yang mengerikan di depan gawang seperti ketika membela Liverpool dan The Three Lions tak lagi terlihat di Santiago Bernabeu. Owen kesulitan untuk mengembalikan performanya.

Total selama membela Real Madrid di musim 2004/2005 Owen hanya menyumbangkan 13 gol. Jumlah tersebut tentu saja jauh dari harapan publik Santiago Bernabeu. Madrid kemudian melego Owen ke Newcastle United. Kembali ke Inggris, Owen berharap mampu menampilkan permainan terbaiknya. Tapi harapan itu hanyalah tinggal harapan. Selama 4 musim berkostum Newcastle United, Owen hanya mencetak 26 gol dalam 71 laga yang dijalaninya.

Pada musim panas 2009, Owen kembali mengejutkan publik Inggris dengan bergabung ke Manchester United. Sebuah hal yang haram, mengingat Manchester United adalah seteru abadi Liverpool di tanah Britania. Ribuan suporter Liverpool patah hati mendengar bergabungnya mantan bintang mereka ke kubu musuh bebuyutan. Owen sadar keputusan yang ia buat bakal menuai kontroversi, tapi ia tak terlalu ambil pusing. Ia menikmati resiko yang telah ia buat.

Sebagai pemain yang gagal menampilkan performa terbaik setelah cidera, bergabung bersama Manchester United adalah sebuah hal yang besar. Owen tentunya tak pernah menyangka pelatih Manchester United kala itu, Sir Alex Ferguson masih berminat menggunakan jasanya untuk memperkuat the red devils. Sir Alex Ferguson bukanlah pelatih sembarangan.

Fergie memiliki reputasi yang baik soal merekrut pemain. Rata-rata pemain yang ia rekrut selalu bersinar. Maka kepercayaan diri Owen kembali tumbuh karena yang menginginkan dirinya adalah seorang pelatih besar dengan reputasi yang positif. Tapi pada akhirnya para suporter Liverpool mungkin akan tertawa. Pasalnya Owen sama sekali tidak memberikan kontribusi yang maksimal untuk Manchester United.

Sepanjang 3 musim berkostum Man Utd, Owen tampil 31 kali, dan hanya mencetak 5 gol. Owen bahkan lebih sering diturunkan menjadi pemain pengganti. Gagal bersinar ketika membela rival mantan klubnya, Owen lalu bersama tim medioker, Stoke City di musim 2012/2013. Pada akhirnya, musim tersebut menjadi musim terakhir bagi karir sepakbola Owen. Ia hanya tampil 8 kali dan mencetak 1 gol di musim itu.

Akhir musim 2012/2013 Owen memutuskan untuk pensiun dari dunia yang pernah membesarkan namanya. Hal itu tidak mengejutkan publik sepakbola, mengingat Owen sudah lama “menghilang.” Owen tak pernah lagi sama sejak cidera yang dialaminya tahun 2004 di Real Madrid.

Apa yang dialami Michael Owen lebih buruk lagi dialami oleh Owen yang lain. Owen Hargreaves, pemain Inggris yang karirnya cemerlang bersama Bayern Munich. Musim panas 2007, Owen kembali ke tanah asalnya, Inggris, untuk membela klub terbesar di Britania Raya, Manchester United. Musim pertamanya bersama Man Utd dilalui Owen Hargreaves dengan manis.

Trofi Liga Champion keduanya telah ia raih bersama teh red devils, setelah sebelumnya ia raih bersama Bayern Munich. Hargreaves bahkan mencetak satu gol pinalti dalam drama adu pinalti melawan Chelsea di laga final.

Tapi yang terjadi di musim berikutnya adalah hal yang tak pernah ia harapkan dalam hidupnya. Hargreaves mengalami cidera cukup parah yang membuatnya absen hingga akhir musim. Pada dua musim selanjutnya Hargreaves tak lagi mampu sembuh 100 persen dari cidera yang dialaminya. Hargreaves beberapa kali sempat kembali ke lapangan, namun ia kemudian kembali tepar di lapangan.

Manchester United akhirnya memutuskan kontrak Hargreaves pada musim panas 2011. Hargreaves kecewa dengan keputusan Man Utd. Kekecewaan itu sempat ia lontarkan di depan media dengan menyalahkan pihak staff medis the red devils. Pernyataan Hargreaves memantik komentar dari Sir Alex Ferguson. Sir Alex Ferguson angkat bicara dengan membela staff medis Man Utd perihal kata-kata Hargreaves.

Setelah kontraknya diputus oleh Man Utd, Hargreaves kemudian direkrut oleh klub tetangga the red devils, Manchester City. Tapi sayang, Hargreaves tak kunjung membaik dari cidera yang menerpanya. Pada musim 2011/2012 tersebut Hargreaves hanya tampil sekali untuk Man City. Ia kemudian memutuskan gantung sepatu di musim panas 2012.

Selain Jonathan Woodgate, Michael Owen, dan Owen Hargreaves, sebenarnya masih banyak lagi pemain yang karirnya redup setelah mengalami cidera panjang. Namun tidak semua pemain memiliki penurunan karir drastis setelah cidera panjang yang dialaminya. Contohnya adalaha yang dialami oleh Ronaldo Luiz Nazario De Lima, atau yang populer dengan nama “Ronaldo Brasil” untuk membedakannya dengan Cristiano Ronaldo.

Ronaldo Luiz Nazario De Lima mengalami musim musim yang luar biasa ketika berada di Eropa dengan membela PSV Eindhoven (1994-1996) dan Barcelona (1996-1997). Gemilang bersama Barcelona, Inter Milan pun memboyong Ronaldo ke Italia. Seperti halnya kala berada di Belanda maupun Spanyol, musim pertama Ronaldo di Italia berjalan dengan gemilang. Kegemilangan itu membawanya ke Piala Dunia 1998, Perancis.

Pada Piala Dunia keduanya itu, Ronaldo tampil brilian dari babak penyisihan. Namun sayang, di partai final melawan Perancis, ia mengalami cidera yang sampai saat ini penyebabnya masih menjadi misteri. Brasil akhirnya kalah atas tuan rumah Perancis dengan skor telak 3-0. Pasca cidera yang dialaminya, Ronaldo kembali memperkuat Inter Milan di musim 1998/1999.

Meski penampilannya menurun, Ronaldo tetap tampil mengesankan untuk tim biru hitam. Namun di musim ketiganya, ia mengalami cidera yang sangat parah. Ronaldo harus absen 20 bulan karena cidera itu. Ronaldo bahkan berpikir untuk gantung sepatu di tengah-tengah proses penyembuhannya. Beberapa kali ia turun ke lapangan tapi beberapa menit kemudian cidera kembali menimpanya. Beruntung support dari orang orang terdekat membuatnya urung untuk berhenti bermain sepakbola.

Pertengahan musim 2001/2002 Ronaldo kembali memperkuat timnya setelah cidera panjang yang dialaminya. Sedikit demi sedikit penampilan Ronaldo kembali menunjukkan perkembangan yang menyenangkan. Musim tersebut Ronaldo telah bermain sebanyak 16 pertandingan dan mencetak 7 gol. Ronaldo kemudian diboyong ke Korea/Jepang oleh Luiz Felipe Scolari, pelatih Brasil saat itu untuk memperkuat Tim Samba di Piala Dunia 2002.

Pada gelaran Piala Dunia 2002 itu Ronaldo menunjukkan performa yang tak pernah dibayangkan semua orang. Ronaldo menjawab keraguan semua pihak dengan mencetak 8 gol di turnamen 4 tahunan itu sekaligus membawa Brasil menjadi juara Piala dunia untuk kelima kalinya. Sebagai tambahan informasi bahwa Ronaldo pun kini telah menyamai rekor legenda Brasil, Pele dengan mencetak 12 gol di Piala Dunia.

Pasca gelaran Piala Dunia 2002 yang kembali melambungkan namanya, Para suporter Inter Milan harus patah hati karena Ronaldo memutuskan hijrah ke Spanyol untuk membela Real Madrid yang kala itu mengumpulkan para pemain terbaik dunia dalam proyek ambisius bertajuk “Los Galacticos”. Di Santiago Bernabeu, Ronaldo seperti macan lapar yang terbangun dari tidur panjangnya.

Selama 5 musim berkostum Real Madrid tersebut, pemain yang identik dengan rambut kuncungnya itu telah mengoleksi 83 gol di semua kompetisi. Setelah tak lagi membela Real Madrid, Ronaldo menyulut kebencian para suporter Inter Milan karena memutuskan untuk membela sang rival, AC Milan.

Keputusan Ronaldo pindah ke AC Milan adalah “penghianatan” kedua selama karirnya. Yang pertama tentu saja saat ia memutuskan berkostum Real Madrid. Padahal ia adalah pemain yang namanya melambung ketika berkostum Barcelona, tim yang merupakan rival abadi Real Madrid. Namun Ronaldo tak pernah menyesali semua keputusannya.

Selain Ronaldo Nazario De Lima, pemain lain yang “selamat” setelah mengalami cidera panjang adalah Zlatan Ibrahimovic, pemain yang telah menjadi “legenda” di banyak klub besar Eropa. Zlatan Ibrahimovic adalah pemain yang berjaya bersama Ajax Amsterdam, Barcelona, Inter Milan, AC Milan, Juventus, dan Paris Saint Germain.

Pada musim 2016/2017 Ibrahimovic mencicipi bermain di klub terbaik di Muka Bumi, Manchester United. Musim pertamanya bersama Man Utd, Ibra telah menggapai treble winners, yaitu Community Shield, Carabao Cup, dan Europa League. Namun naas, di awal musim keduanya ia mengalami cidera cukup parah. Ibra pun absen hingga akhir musim.

Musim panas 2018, Ibrahimovic nyaris memutuskan untuk mengakhiri karir panjangnya di dunia sepakbola yang telah membesarkan namanya. Cidera panjang menjadi salah satu alasan dari keputusan itu, selain karena usianya kala itu memang sudah tua untuk ukuran atlit sepakbola. Tapi ia kemudian mengurungkan niatnya setelah kondisi kakinya dinyatakan sembuh.

Ibra kemudian bermain di Liga Amerika Serikat atau MLS (Major League Soccer) dengan membela klub terbaik di kompetisi tersebut, yaitu Los Angeles Galaxy. Bersama Los Angeles Galaxy, Ibra kemudian kembali bersinar dan hingga artikel ini dimuat, ia belum menunjukkan tanda tanda akan pensiun dari sepakbola.

Kembali ke Alex Oxlade Chamberlain. Akankah di musim 2019/2020 nanti ia akan bangkit setelah cidera panjang yang menerpanya, atau justru jatuh ke dalam keterpurukan. Sebelum musim 2019/2020 dimulai, Oxlade Chamberlain telah dinyatakan sembuh oleh staff medis Liverpool. Kini ia berada dalam proses pengembalian kondisi fisiknya. Chamberlain menyatakan dirinya optimis bakal siap bermain ketika musim 2019/2020 dimulai.

Chamberlain tentu akan bersaing dengan Nabiel Keyta dan Wijnaldum yang musim lalu bermain gemilang untuk Liverpool. Namun Chamberlain yakin dirinya mampu bersaing dengan para pemain lain di lini sayap kiri Liverpool tersebut. Kita tunggu kiprah Chamberlain musim 2019/2020 di Liverpool.